Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fenomena Lycanthropy Abnormal Tapi Nyata


Lycantrophy ialah sebuah mitos dari Eropa kuno berupa makhluk monster setengah insan setengah serigala. Konon insan serigala bakal berubah pada Saat bulan purnama tiba, yg mana kekuatan mistiknya mencapai puncaknya. Dalam mitologi tersebut, insan serigala senantiasa bakal memburu insan dan barang siapa yg tergigit atau terkena cakarannya bakal menjadi Keliru satu dari insan serigala pula. Dia konon hanya bisa mati Jika ditembak dengan peluru perak.


Seperti yg pernah terjadi di India pada Pruthviraj Patil dan beberapa anak lainnya, cukup umur India penderita Werewolf Syndrome, kelainan terjadi akhir mutasi pada kromosom. Penderita sindrom ini rambutnya bakal terus tumbuh setrik abnormal dan berlebihan. Kelainan genetik ini sudah bisa dilihat Saat kelahiran, dimana bayi yg lahir sekujur tubuhnya memiliki rambut berlebih. Penderita sindrom ini penampilannya mirip siluman insan serigala (werewolf). Ternyata semua binatang jadi-jadian itu memiliki huruf serupa. Misalnya, perubahan di malam hari, menularkan kemampuan berubah bentuk melalui tetesan darah dalam gigitan, luka yg terjadi dalam bentuk binatang juga muncul dalam ujud manusia, atau binatang jadi-jadian yg mati segera kembali berubah jadi manusia.

Disini sahabat anehdidunia.com mungkin kita bakal membahas apa yg kita sanggup dari beberapa sumber ihwal fenomena Lycantropy yg memang aneh tapi nyata ada di dunia kita yg memang sulit untuk dipungkiri bahwa abnormal tapi faktual selalu menarik untuk diperdalami lebih lanjut.

Akibat kutukan


Herodotus, sejarawan Yunani dari era V SM, menyampaikan pada + 2.400 tahun lalu, bahwa penduduk di tempat yg kini berjulukan Lithuania dan Polandia, mengaku berubah menjadi insan serigala selama beberapa hari dalam setahun. Masa itu insan serigala ialah insan dengan dorongan berpengaruh memangsa insan lainnya. Melalui sihir mereka berubah menjadi serigala hitam untuk memudahkan mewujudkan niatnya. Sekali berubah, berdasarkan kepercayaan lama, bakal terus menyimpan kekuatan dan kelicikan serigala.

Baru di era 1 SM Virgil sebagai penulis Latin yg pertama kali menyebut-nyebut soal takhayul ini, kemudian diikuti oleh Propertius, Servius, dan Petronius. Petronius yg kepala urusan hiburan zaman pemerintahan Kaisar Nero (54 – 68) bertutur ihwal insan serigala dalam bentuk sastra roman Satyricon. Dengan bumbu terang bulan, pekuburan, dan luka kekal Setelah kembali jadi manusia, membuat roman itu sebagai bacaan hiburan.

Sebagian tradisi Roma dan Yunani menganggap insan berubah jadi serigala sebagai sanksi dewa, alasannya ialah ia telah mempersembahkan korban berupa manusia, ujar Pliny (61 – 113). Meski gres era XVIII cerita ihwal insan serigala diterbitkan, bukan berMakna orang berkurang minat terhadap insan serigala. Justru kepercayaan itu demikian kuat, bahkan sering diterima sebagai kebenaran, bukan fiksi.

Menurut kepercayaan usang ada tiga macam insan serigala. Pertama, yg memperolah kemampuan itu melalui keturunan. Konon, kutukan terhadap nenek moyang menimbulkan setiap keturunannya menjadi insan serigala. Kedua, orang yg dengan sukarela jadi serigala dengan alasan dan tujuan jahat. Sedangkan yg terakhir ialah insan serigala berhati lembut dan baik. Kondisinya yg tidak lazim, malah membuatnya merasa malu.

Sebenarnya, transformasi sering dilakukan oleh dukun-dukun suku tertentu dengan tujuan baik untuk mengatasi dilema di kelompoknya. Saat langka makanan, contohnya, si dukun bisa saja berubah ujud menjadi binatang jadi-jadian serupa makhluk yg bakal diburu, semoga lebih Mudah melacak buruan itu. Ada juga yg tidak berubah ujud tetapi meminjam badan binatang untuk memata-matai, menyantet, atau sekadar menakut-nakuti musuh.

Berjubah kulit serigala


Kasus insan serigala yg mencolok terjadi di Prancis, awal era XVII. Adalah Jean Grenier (13) yg merasa yakin dirinya insan serigala. Di pengadilan Bordeaux, Grenier mengaku, 2 tahun sebelumnya membuat perjanjian dengan setan di hutan. Dengan kulit serigala yg berdasarkan pengakuannya pinjaman setan, tiap malam ia bisa berkeliaran sebagai serigala, namun di siang hari kembali ke bentuk manusia. Ia telah membunuh dan memangsa beberapa anak kecil yg sendirian di ladang, juga menculik bayi yg ditinggal di rumah.

Sejauh menyangkut sikap kanibalisme, penyelidikan menawarkan kebenaran pengakuannya. Namun dari sudut kedokteran, cukup umur ini digolongkan penderita lycanthropy. Kelainan jiwa ini menyebabkannya berkhayal tubuhnya berubah bentuk menjadi hewan. Menilik usianya yg masih belia, Grenier cuma dieksekusi kurungan seumur hidup di Agara Fransiskan, Bordeaux.

Perubahan Grenier dengan menyamar di bawah kulit serigala serupa dengan trik transformasi insan beruang di Skandinavia yg Memakai kulit beruang. Selain kulit binatang, konon ada alat lain, yaitu korset. Ada yg terbuat dari kulit orisinil binatang, ada yg dari kulit insan yg dieksekusi gantung. Dua alat itu banyak digunakan di Prancis, Jerman, Skandinavia, dan beberapa negara Eropa Timur. “Benda sakti” lainnya ialah salep khusus berisi ramuan dari kelompok tanaman solanaceae yg membangkitkan halusinasi.

Selain itu ada lagi alat dan trik untuk bertransformasi yg berupa jimat, ramuan, dan mantera pemujaan pada iblis. Khusus pemakaian jimat, justru orang di sekitar si pemakai yg terpengaruh seakan melihat insan serigala, padahal si pelaku tidak berubah. Di luar Saat bulan purnama, perubahan sering terjadi impulsif dan lepas dari kendali pelakunya.

Penampilan si pelaku yg menakutkan, tindak kejahatannya yg mengerikan, dan terutama alasannya ialah kengerian terhadap kekuatan setan, membuat insan serigala jadi obyek yg Musti diburu dan dimusnahkan. Penghukuman terhadap mereka terjadi di hampir sepanjang sejarah di Eropa. Malah pelaku kejahatan apa pun dengan mudahnya sanggup dijuluki insan serigala.

Pembunuhan massal sering disebut akhir kejahatan serigala. Seperti yg menimpa Peter Stubbe di tahun 1590 (ada yg menyebut Peter Stump di tahun 1589) dari Bedburg, akrab Cologne. Ia dituduh sebagai serigala yg kanibal setidaknya pada 2 pria, 2 perempuan hamil, dan 13 kanak-kanak, dan inses dengan adik perempuannya.

Hukuman yg diterimanya luar biasa. Setelah dicabik-cabik dengan penjepit, dilindas roda, dipancung, jadinya badan tanpa kepala itu dibakar. Hukuman bakar hidup-hidup juga diberlakukan untuk gundik dan anak perempuannya.

Di Prancis dan Jerman, insan serigala biasanya memang dibakar atau digantung. Seperti yg terjadi terhadap lebih dari 200 laki-laki dan perempuan Pirenea (antara Prancis dan Spanyol) di seputar era XVI, alasannya ialah diduga insan serigala.

Menurut Elton B. McNeil dalam The Psychoses (1970), demam berburu manusia serigala bisa disamakan dengan perburuan terhadap penyihir. Setrik kejiwaan mereka yakin, orang bakal diberkati bila bisa menangkap pelayan atau sekutu iblis.

Tak heran, Saat itu di Prancis banyak ditemukan insan serigala kagetan. Dalam satu periode – antara 1520 – 1630 – di Prancis tercatat 30.000 perkara insan serigala.

Ada beberapa patokan untuk memilih apakah seekor serigala jadi-jadian atau tidak. Konon, insan serigala bakal mempertahankan bunyi dan mata manusianya. Sedangkan berdasarkan suku Indian, yg berubah jadi serigala hanya cuilan kepala, tangan, dan kaki.

Dalam ujud manusia, ada beberapa ciri khas yg membedakannya dengan insan biasa. Dua ujung alisnya saling bertemu di tengah, jari-jari tangannya yg panjang agak kemerahan, dengan jari tengah yg sangat panjang. Selain telinganya agak ke bawah dan sedikit ke belakang, tangan dan kakinya cenderung berbulu lebat.

Rasa takut terhadap insan serigala lebih Mudah dipahami dengan mengetahui alasan takut terhadap serigala. Sebelum era XX di Eropa dan Asia Utara, serigala dianggap binatang paling cerdik yg berbahaya bagi insan dan ternak. Apalagi bila serigala itu gila. Cukup sekali gigit korbannya bisa tewas mengerikan. Sampai-sampai ada institusi pemerintah Prancis yg khusus mengontrol serigala, paling tidak semenjak pemerintahan Charlemagne (768 – 814), hingga era ini.

Di Eropa pada era pertengahan, serigala terkadang digantung bersebelahan dengan pelaku kejahatan di tiang gantungan, sebagai simbol ditaklukkannya kejahatan. Serigala pernah jadi dilema serius Irlandia era XVII, sehingga sepotong kepala serigala sama nilai hadiahnya dengan kepala pemberontak.

Hanya halusinasi


Ada pendapat, insan serigala timbul akhir halusinasi. Antara lain, imbas racun ergot yg dihasilkan oleh jamur Claviceps purpurea pada gandum. Ergot mengandung materi serupa materi mentah untuk membuat LSD.

Halusinasi akhir ergot banyak terjadi di Eropa pada era pertengahan. Itu tak lain alasannya ialah masyarakat kebanyakan hanya bisa mengkonsumsi biji gandum yg terkontaminasi, sementara gandum higienis disimpan hanya untuk bangsawan. Maka, tanpa pengalaman atau ilmu sihir, bila memakan biji-bijian itu orang bisa merasa jadi katak atau serigala.

Satu cerita tragis terjadi tahun 1951 di Pont St Esprit di Rhone Valley, dengan korban keracunan ergot +300 orang. Lima orang mati, sedangkan kebanyakan cacat seumur hidup. Mereka yg cacat mengaku, telah mengalami halusinasi mengerikan. Ada laki-laki yg merasa seperti otaknya dilahap segerombolan ular merah. Ada pula yg sanggup membebaskan diri dari jaket pengikat orang gila hingga 7x, rontok giginya alasannya ialah menggigit putus tali pengikat dari kulit yg membelenggunya, dan bisa membengkokkan dua batang teralis besi di jendela rumah sakit! Alasannya, laki-laki itu merasa dikejar-kejar harimau.

Pendapat lain mengira insan serigala ialah akhir persepsi keliru terhadap penyakit keturunan congenital porphyria. Menurut dr. Lee Illis dari Guy Hospital, London, pengidapnya amat tak tahan terhadap cahaya (karna itu mereka hanya bisa keluar malam hari), giginya berwarna merah atau coklat kemerahan, dan menawarkan tanda-tanda gangguan jiwa (dari histeris ringan hingga depresi maniak). Borok lambat laun mengubah bentuk tangan mereka menjadi serupa cakar.

Namun, pendapat ini disanggah cendekiawan Almotarus, yg menjelaskan insan serigala dalam bentuk insan memiliki ciri khusus berupa mata cekung dan kering, serta kulit pucat. Selain itu luka pada kulit penderita jauh berbeda dengan kulit serigala.

Roh jahat dalam perjalanan astral



Pemahaman terhadap insan serigala memasuki era gres menyusul keputusan terhadap Jean Grenier. Hakim-hakim di masa itu mustahil lagi mengabaikan “koor” pendapat para dokter, yg yakin insan serigala bersama-sama ialah penderita banyak sekali jenis dan tingkatan gangguan jiwa. Meski dokter Alfonso Ponce de Santa dari Spanyol masih menyebutnya sebagai tanda-tanda kemurungan jiwa akhir cairan tertentu yg dihasilkan empedu, yg diduganya telah menyerang otak.

Maka dibedakan antara makhluk mitos insan serigala dan penderita kejiwaan (lycanthrope).

Lycanthropy berakar dari kata Yunani lycos Maknanya serigala dan anthropos atau manusia. Meski ada yg menyebut setrik berbeda. Robert Burton dalam buku pengobatan klasik The Anatomy of Melancholy (1621) contohnya, Memakai istilah kegilaan terhadap serigala.

Mula-mula lycanthrope digunakan untuk menggambarkan fenomena kuno berupa kemampuan orang berubah menjadi jadi binatang. Namun lama-lama istilah itu diaplikasikan khusus untuk orang yg di alam subnormal yakin bisa berubah bentuk. Keyakinan itu dikuatkan dengan dorongan bersikap sadis dan obsesi terhadap darah dan daging yg terus bertahan dari waktu ke waktu di banyak sekali tempat – bahkan di negara beradab. Selera terhadap daging insan itulah yg mengubah insan menjadi monster. Namun setrik faktual penderita lycanthrope tidak pernah berubah bentuk, suara, dan sikap menjadi serigala.

Mengenai penampilannya yg tetap manusia, pada era XV – XVI penderita lycanthrope berkilah, bahwa bulu-bulu mereka tumbuh di bawah kulit. Seperti yg terjadi di Padua, Spanyol, tahun 1541, Saat seorang petani dengan keji membunuh dan mengoyak-ngoyak badan beberapa orang korbannya. Saat tertangkap, ia mengaku sebagai serigala meski setrik fisik tidak berujud binatang. Itu tak lain alasannya ialah bulu-bulunya tersembunyi di bawah, bukan di atas, kulit. Untuk menerangkan ucapannya, penduduk segera memotong lengan dan kakinya. Alhasil, kecewa yg didapat, yg ada cuma darah, otot, dan tulang biasa.

Malah dalam buku klasik ihwal sadisme, masokisme, dan lycanthropy Man into Wolf, antropolog Inggris Dr. Robert Eisler menyebut kemungkinan Adolf Hitler sebagai penderita lycanthropy. Ia merujuk pada kesaksian gimana sang Fuhrer memiliki kebiasaan menggigit karpet Saat mengamuk.

Sedangkan insan serigala ialah orang yg dengan kekuatan sihir atau mantera khusus dipercaya bisa mengubah diri menjadi serigala. Ia benar-benar serupa serigala baik keganasan, kekuatan, kelicikan, dan kecepatan larinya. Ia bisa bertahan dalam kondisi itu selama beberapa jam saja atau bahkan permanen.

Pendapat yg menguatkan keberadaan insan serigala didukung oleh spiritualis Rose Gladden dengan dasar ajaran perjalanan astral. “Katakanlah ada orang yg intinya jahat, suka dengan hal-hal yg mengerikan. Saat ia melaksanakan perjalanan astral, roh jahat yg banyak berkeliaran bebas di udara bakal menangkap, mengubahnya menjadi serigala atau binatang lainnya, dan memanfaatkannya untuk tujuan keji.”

Dorongan bebas nilai
Lain lagi pendapat paranormal terkemuka Prancis pada era XIX Eliphas Levi, bahwa proses transformasi itu ialah suatu manifestasi simpati insan terhadap naluri kebinatangannya. Menurutnya, insan serigala tidak lebih dari badan nonfisik dan naluri ganas berbentuk serigala.

Senada dengan itu, John Godwin, penulis Unsolved: The World of the Unknown, lebih menyoroti dorongan dalam diri manusia. Jujur saja, bersama-sama insan memiliki sifat jelek serupa serigala yg selama ini ditekan untuk tidak muncul. “Dengan berubah, mereka bebas dari ujud fisik manusianya yg mengalangi mewujudkan dorongan dan harapan berpengaruh tanpa perlu merasa bersalah atau takut. Dalam ujud binatang, tidak ada lagi tabu yg Musti dijaga. Karena binatang memang tidak mengenal tabu.”

Sedangkan James VI dari Skotlandia dalam Daemonologie (1597), melihat penyebabnya ialah segunung dilema yg dihadapi insan mulai dari petaka dan cuaca buruk, gagal panen, serangan hama, dan kejahatan yg meningkat. Semua itu perlu seseorang atau sesuatu untuk disalahkan. Gampangnya, serigala dijadikan kambing hitam. Selain itu ialah ketidaksiapan penduduk untuk melepaskan kepercayaan atas makhluk sejenis itu membuat insan serigala terus eksis dalam waktu lama.

Richard Carrington, penulis Mermaids and Mastodon menyamakan alasan di balik kepercayaan bakal insan serigala dengan kepercayaan primitif, bahwa monster bersama-sama bentuk yg diciptakan insan sendiri, untuk mengkompensasikan posisinya sendiri yg demikian kecil di alam semesta.

Saat peradaban makin maju, mitos binatang angker pun lenyap. Contohnya, suku Indian Sioux di Dakota Utara, AS, yg dulu percaya bakal adanya binatang pemangsa manusia. Tapi, keturunannya di era ini melupakan mitos itu. Menurut mereka, takhayul itu lahir akhir rasa takut terhadap mastodon yg berkeliaran di dataran Dakota.

Pendapat insan serigala hanya takhayul belum mencapai kata putus. Jika benar itu sekadar ciptaan manusia, mengapa cerita itu bertahan sekian lama? Apa pula yahg membuat ilmuwan demikian getol berkutat memecahkannya?

Baca juga Kisah Kekuatan Cinta Abadi

sumber:http://fenomenaduniaon.blogspot.com/http://duniaunik-id.blogspot.com

Posting Komentar untuk "Fenomena Lycanthropy Abnormal Tapi Nyata"