Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik

Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik - Sebuah amalan dan baik digunakan dalam kehidupan sehari-hari DIGDOYO, blog ini memang khusus membuat berbagai macam artikel tentang ilmu Ajian, olah kanuragan yang bisa kalian pelajari langsung Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik, kami telah mempersiapkan informasi yang kalian butuhkan untuk menguasainya. Silahkan ambil informasi yang kalian butuhkan tentang: Artikel cerita dongeng, yang kami buat dan pelajari dengan penuh keikhlasan.

Judul:Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik
link:Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik
Artikel Menarik:

Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik

Politik berdasarkan aristoteles yaitu Usaha yang ditempuh oleh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama. Sedangkan berdasarkan Hans Kelsen pengertian politik itu ada dua yaitu Politik sebagai etik, yakni berkenaan dengan tujuan insan atau individu agar tetap hidup setrik sempurna. Politik sebagai teknik, yakni berkenaan dengan trik (teknik) insan atau individu untuk mencapai tujuan. Makara begitu banyak pengertian dari politik itu sendiri. Sahabat anehdidunia.com jawaban dari permainan politik ini, tercatat dalam sejarah bahwa beberapa tokoh yang menjadi pimpinan politik ini terbunuh alasannya yaitu politik itu sendiri. Beberapa diantaranya bahkan memiliki posisi sebagai kepala negara. Berikut tokoh politik yang terbunuh alasannya yaitu skandal politik.


Patrice Lumumba



Sahabat anehdidunia.com ia dikenal sebagai bapak kemerdekaan Kongo. Ia lahir tahun 1925 di Provinsi Kasai, Kongo. Tahun 1944, ketika tinggal di Stanleyville, gerakan “évolués” (berkembang), yakni sekelompok cowok berpendidikan Kongo yang dipersiapkan untuk “memberadabkan” negerinya ibarat dengan golongan etis di Indonesia di jaman kolonial. Tahun 1957, Lumumba pindah ke Leopoldville kini Kinshasa. Di kota inilah Lumumba menemukan kesadaran politiknya dan bergeser ke nasionalis-kiri.

Pada tahun 1959, Lumumba memimpin sebuah partai berhaluan pro-pembebasan nasional, Gerakan Nasional Congolais (MNC). Karena haluan politik yang radikal, MNC segera meraih dukungan luas dari rakyat Kongo. Pada bulan Maret 1959, keanggotaan MNC sudah mencapai 58.000 orang. 4 Januari 1959, terjadi represi brutal. Sebuah agresi demonstrasi ditumpas setrik brutal oleh Force Publique (tentara Kongo) ibarat KNIL di Indonesia. Ratusan rakyat tewas. Peristiwa ini mengubah kesadaran rakyat Kongo untuk tidak percaya dengan kesepakatan anggun kolonialis Belgia.

Perlawanan muncul di mana-mana. Lumumba sendiri ditangkap alasannya yaitu aktivitasnya berpidato keliling mengagitasi massa rakyat. Dia gres dibebaskan sehabis dirinya dipanggil berunding di Brussel, Belgia, awal tahun 1960. Pada bulan Mei 1960, diselenggarakan pemilu nasional. Partainya Lumumba, MNC, berhasil memenangi pemilu. Artinya, kehendak rakyat untuk merdeka tak terbendung lagi. Dan, pada 30 Juni 1960, Lumumba membacakan proklamasi kemerdekaan.

Sayang, kekuatan yang selama ini menghisap Kongo, yakni kolonialisme Belgia, imperialisme AS, dan elit-kaya Kongo, tak nyaman dengan kemerdekaan itu. Mereka kemudian berafiliasi dengan elit lokal berjulukan Moise Tshombe, pimpinan partai reaksioner Conakat yang pro-penjajahan. Sejak itulah Kongo terjerumus dalam kekacauan. Imperalisme AS punya andil dalam membuat kekacauan. bulan September 1960, sehabis melalui konspirasi elit sayap kanan, kolonialis Belgia, dan Imperialisme AS, Lumumba dipecat oleh DPR dari jabatannya. Tindakan ini dilawan oleh rakyat.

Joseph Mobutu, bekas seperjuangannya, berkhianat dan membelot mendukung Belgia dan AS. Mobutu lah yang menggulingkan pemerintahan Lumumba. Namun, Lumumba masih sempat melarikan diri dari tahanan rumah dan berkeinginan mengorganisasikan perlawanan. Sayang, tanggal 1 Desember 1960, langkahnya terhenti. Ia ditangkap tentara pro Mobutu. Lumumba dan dua kawannya dieksekusi tanggal 17 Januari 1961. Mayatnya dipotong-potong kemudian dibakar tanpa menyisakan bekas.


Abraham Lincoln



Abraham Lincoln yaitu Presiden ke-16 Amerika Serikat. Ia berkuasa dari tahun 1861 hingga 1865. Pada tahun 1862, Ia memberikan Proklamasi Emansipasi, yang bertekad menghapuskan perbudakan di Amerika Serikat. Namun, harapan Lincoln tidak mulus. Ia harus berhadapan dengan kekuatan konservatif, terutama pemilik budak. Amerika pun terbelah dua: negara-negara kepingan Utara (yang anti perbudakan) dan Selatan (yang pro perbudakan). Itu pula yang membuat Amerika terjerembab dalam perang sipil selama 4 tahun.

Di final masa jabatannya, Lincoln masih mendorong amandemen ke-13 Konstitusi AS untuk menghapuskan perbudakan. Dan proyek Lincoln itu berhasil. Sayang, keberhasilan Lincoln itu harus ditebus dengan nyawanya. Pada 14 April 1865, ketika sedang menyaksikan pertunjukan teater, Abraham Lincoln ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro perbudakan. Lincoln tercatat sebagai Presiden pertama AS yang jadi korban pembunuhan.


Salvador Allende



Salvado Allende yaitu Presiden ke-29 Chile. Ia menjadi Presiden dari tahun 1970 hingga 1973. Yang menarik, Allende yaitu presiden berhaluan marxis pertama di Amerika Latin yang berhasil merebut kekuasaan melalui jalan parlemen. Allende memenangkan pemilu pada September 1970 melalui kendaraan politiknya, Unidad Popular, dengan perolehan bunyi 37%. Unidad Popular sendiri merupakan campuran Partai Sosialis, Partai Komunis, dan sejumlah kelompok radikal.

Semasa berkuasa, Allende melaksanakan sejumlah kebijakan progressif, ibarat land reform (reforma agraria), menaikkan upah buruh, dan menasionalisasi sejumlah aset strategis. Hampir 60% bank swasta beralih ke tangan kepemilikan publik. Karena langkah-langkah progressif inilah, banyak kepentingan kapitalis, baik domestik maupun asing, yang terancam. Mereka pun dengan sokongan AS melancarkan upaya mendestabilisasi pemerintahan Salvador Allende.

Meski begitu, rakyat Chile tetap berpihak ke Allende. Pada 4 September 1973, sedikitnya 800.000 rakyat Chile bergerak ke Istana Moneda, Istana Kepresidenan Chile, untuk menyatakan dukungan terhadap pemerintahan Salvador Allende. Rakyat ketika itu meneriakkan: “Allende, Rakyat membelamu; memukul kaum reaksioner!” Saat itu, rakyat Chile meminta dipersenjatai untuk melawan bahaya sayap kanan, tetapi kurang direspon oleh pemerintahan Allende.

Sebaliknya, pada 11 September 1973, sayap kanan yang dikomandoi Augusto Pinochet melancarkan perebutan kekuasaan militer. Istana Moneda dikepung oleh tank dan dibombardir oleh pesawat tempur. Salvador Allende menentukan tidak mengalah dan bersiap bertempur hingga akhir. Saat itu, ia turut menenteng senjata AK-47. Beberapa versi menyebutkan, Allende melaksanakan bunuh diri dengan senjata AK-47 yang dipegangnya. Namun, melalui film dokumenter yang dibuatnya pada tahun 2004, Patricio Guzmán menyimpulkan bahwa Allende bunuh diri dengan pistol. Tetapi, kontrkelewat / oversi final hidup Allende belum berakhir. Banyak rakyat Chile yang menyakini bahwa Allende dibunuh oleh militer pendukung Pinochet.


Mahatma Gandhi



Mohandas Karamchand Gandhi, atau sering dipanggil Mahatma Gandhi, yaitu bapak pembebasan India. Selama beberapa dekade, Gandhi memimpin gerakan kemerdekaan India untuk lepas dari kolonialisme Inggris. Gandhi yaitu lulus sekolah aturan di Inggris. Ia kemudian mengawali karirnya sebagai pengatrik di Afrika Selatan, yang ketika itu masih di bawah kolonialisme Inggris. Namun, di sana, Gandhi justru mendapatkan perlakuan diskriminatif. Ia pernah diturunkan dari kereta api alasannya yaitu bersikeras duduk di dingklik klas utama yang diperuntukkan untuk kalangan kulit putih.

Kembali ke India, ia memimpin gerakan kemerdekaan. Ia menggunakan metode non kekerasan dan pembangkangan sipil/boikot. Gerakan ini disebut “Satyagraha” atau “Jalan Menuju Kebenaran”. Pada tahun 1920 an, ia memimpin gerakan boikot barang-barang Inggris dan menyerukan perilaku non koperasi (menolak kerjasama). Tahun 1930-an, ia memprotes pajak garam oleh Inggris melalui long march sejauh 250 mil. Pada tahun 1940-an, tuntutan kemerdekaan menguat. Saat itu, penguasa Inggris menangkap sejumlah tokoh pergerakan India, termasuk Gandhi. Ia dipenjara selama 2 tahun. Pasca perang dunia ke-II, Inggris mulai melunak dan menjanjikan kemerdekaan ke India. Namun, ibarat biasa, Inggris menjalankan politik pecah belah: memaksa India menjadi dua negara dengan agama berbeda, yakni India (Hindu) dan Pakistan (Islam). Gandhi menolak anjuran itu.

Taktik pecah belah Inggris itu berhasil membawa India dalam pertumpahan darah antara Hindu dan Islam. Gandhi sendiri berusaha menyatukan Hindu dan Islam untuk bersatu membentuk bangsa India. Gagasan itu ditolak oleh Hindu garis keras. 30 Januari 1948, ketika sedang berdoa di halaman Birla House, New Delhi, Gandhi dibunuh oleh seorang cowok Hindu garis keras. Pemuda itu berjulukan Nathuram Godse. Ia menembak Gandhi dengan pistol sebanyak tiga kali. Bapak nasional India itu tersungkur dan meninggal hanya setengah jam kemudian.


John F. Kennedy



John Fitzgerald “Jack” Kennedy, sering disingkat JFK, yaitu Presiden ke-35 Amerika Serikat. Ia menjadi Presiden AS dari tahun 1961 hingga tahun 1963. Sebelum menjadi Presiden, ia yaitu politisi dari Partai Demokrat. Tak ada hal menonjol yang dilakukan Kennedy ketika menjadi Presiden. Ia menjanjikan dana yang lebih besar untuk pendidikan, jaminan kesehatan bagi lansia, dan pinjaman ekonomi untuk wilayah pedalaman.

Dalam politik luar negeri, kebijakan Kennedy tetap dalam konteks memerangi komunisme. Pada masanyalah invasi Teluk Babi, yakni serangan tiba-tiba AS terhadap Kuba, dilakukan. Pada 22 November 1963, ketika sedang melaksanakan lawatan ke negara kepingan Texas, JF Kennedy ditembak oleh seseorang. Ia tertembak di atas kendaraan beroda empat kepresidenan. Saat itu, pihak berwenang menetapkan Lee Harvey Oswald sebagai pelaku pembunuhan Kennedy. Namun, hingga kini, kontrkelewat / oversi mengenai pembunuhan Kennedy ini belum selesai.


Benazir Bhutto



Benazir Bhutto yaitu politisi Pakistan yang memimpin Partai Rakyat Pakistan (PPP). Bhutto pernah dua kali menjadi Perdana Menteri Pakistan, yakni, yang pertama dari 1988-1990 dan kedua antara 1993-1996. Ia tercatat sebagai wanita pertama yang memegang jabatan perdana menteri di Pakistan. Bhutto sendiri yaitu anak dari mantan Perdana Menteri Pakistan yang digulingkan oleh militer, Zulfikar Ali Bhutto. Zulfikar Ali Bhutto bahkan dieksekusi gantung oleh rezim militer.

Bhutto kemudian muncul dalam kancah politik Pakistan dengan memimpin partai bentukan ayahnya, PPP. Ia kemudian menjadi simbol usaha demokrasi melawan kediktatoran militer. Pada tahun 1988, sehabis berakhirnya kediktatoran, PPP memenangi pemilu. Bhutto pun diangkat menjadi Perdana Menteri. Namun, tak usang kemudian, tepatnya tahun 1990, Bhutto digulingkan alasannya yaitu tuduhan korupsi dan nepotisme.

Namun, ia kembali berkuasa tahun 1993. Namun, tiga tahun kemudian, yakni 1996, ia kembali digulingkan. Lagi-lagi alasannya yaitu tudingan skandal korupsi atas pemerintahannya. Sejak itu, selama hampir satu dekade, Bhutto diasingkan dari politik Pakistan. Tahun 2007, Bhutto kembali ke Pakistan. Popularitasnya masih cukup besar lengan berkuasa di kalangan pendukungnya. Akhirnya, ia kembali berniat untuk mencalonkan diri dalam pemilu 2008. Sayang, pada 27 Desember 2007, ketika sedang melaksanakan kampanye di Rawalpindi, tempat akrab Ibu Kota Islamabad, sebuah serangan bom disertai rentetan tembakan mengakhiri perjalanan hidup Benazir Bhutto.


Thomas Sangkara



Thomas Sangkara yaitu bapak kemerdekaan Burkina Faso, negeri kecil di Afrika Barat. Dia lahir 21 Desember 1949 di Yako, Burkina Faso. Setelah tamat sekolah, ia menjadi anggota militer.Ketika ia dikirim ke Madagaskar, ia menyaksikan pemberontakan rakyat di sana. Kejadian itu sangat mempengaruhinya. Ia pun mulai menggandrungi aliran Karl Marx dan Lenin. Ia membangun sel marxis di kalangan tentara. Pada tanggal 4 Agustus 1983, Thomas Sangkara melaksanakan pemberontakan bersenjata. Dan berhasil. Begitu berkuasa, ia sangat ingin menyebabkan Burkino Faso sebagai negeri merdeka, anti-kolonialisme, dan anti-imperialisme.

Meski ia anggota militer, tetapi Sangkara percaya pada kekuatan rakyat. Seruan pertamanya ketika berkuasa yaitu pembentukan komite-komite revolusioner. Komite-komite inilah yang menjadi landasan bagi partisipasi rakyat dalam revolusi. Komite ini disebut “Komite Untuk Pertahanan Revolusi (CDR)”. Ia juga mengobarkan perang terhadap korupsi. Ia juga memangkas honor pejabat negara. Sebaliknya, kapten berusia 33 tahun ini menyerukan “hidup sederhana”. Ia mendapatkan honor sangat kecil, menolak fotonya di pasang di gedung-gedung, dan meminta tiket ekonomi untuk semua kunjungannya ke luar negeri.

Untuk keluar dari ketergantungan terhadap imperialis, Sangkara mendorong rakyatnya untuk berproduksi untuk memenuhi kebutuhannya. Dalam sebuah pertemuan, Kapten Sankara bertanya, “Di mana imperialisme itu?”. Lalu, ia menjawab sendiri, “Lihatlah piring anda ketika makan. Kau akan melihat jagung impor, beras, dan gandum. Inilah imperialisme.” Tentu, imperialis tak bahagia dengan langkah-langkah Sangkara. Akhirnya, pada 15 Oktober 1987, Kapten Sankara dan 12 kawannya dibunuh oleh kekuatan kontra-revolusioner yang dipimpin oleh Blaise Compaore.


Juan José Torres



Juan José Torres yaitu Presiden ke-61 Bolivia. Ia memerintah tidak hingga setahun, yakni dari Oktober 1970 hingga Agustus 1971. Ia yaitu seorang petinggi militer berfikiran progressif. Torres berasal dari latar belakang keluarga miskin di Cochabamba. Pada tahun 1941, ia bergabung dengan militer. Sempat menjadi atase militer Bolivia di Brazil, duta besar di uruguay, dan Menteri perburuhan.

Pada tahun 1969, seorang militer reformis Alfredo Ovando melancarkan kudeta. Saat itu, Torres menjadi salah seorang ajun Ovando. Torres berharap, Ovando melaksanakan reformasi lebih luas dan meninggalkan militer konservatif. Pada tahun 1970, militer kanan melancarkan kontra-kudeta. Pertempuran terjadi di jalan-jalan. Saat itu, Ovando sudah menetapkan untuk mencari suaka di luar negeri. Dalam situasi itu, Torres justru berhasil memimpin militer kiri Bolivia untuk memenangkan pertempuran.

Toress pun melanjutkan kekuasaan Ovando. Begitu berkuasa, Torres mengambil sejumlah langkah revolusioner, ibarat nasionalisasi sejumlah aset perusahaan AS dan mengusir Peace Corps (bentukan AS) keluar dari Bolivia. Torres juga berusaha mendekatkan Bolivia dengan Uni Soviet. Torres juga memangkas belanja militer untuk membiayai pendidikan. Pada Juni 1971, pemerintahan Torres menyetujui pembentukan Majelis Kerakyatan (Asamblea Popular), yang dirancang sebagai “dual power” ala Lenin/Bolshevik di Rusia. Namun, kelompok sayap kanan juga merancang sebuah upaya untuk menggulingkan Torres.

Puncaknya, pada 21 Agustus 1971, militer sayap kanan yang dipimpin oleh Kolonel Hugo Banzer melancarkan kudeta. Torres pun akhinya diasingkan ke Buenos Aires, Argentina. Namun, pada tahun 1976, militer Argentina di bawah Jorge Videla juga melancarkan kudeta. Begitu berkuasa, Videla terlibat dalam operasi condor untuk membasmi gerakan kiri di Amerika Latin. Dengan operasi condor ini pula, Torres ditembak mati oleh pasukan pembunuh suruhan Jorge Videla.


Anwar Sadat



Mohammad Anwar Al Sadat yaitu Presiden ke-3 Mesir. Ia memerintah Mesir dari tahun 1970 hingga 1981. Karir Anwar Sadat dimulainya dengan menjadi anggota militer. Di bawah pemerintahan Gamal Abdul Nasser, Anwar Sadat menempati sejumlah jabatan penting, ibarat Menteri Negara (1954), Presiden Majelis Nasional (1960-1968), dan Wapres (1969).

Begitu Nasser wafat, Ia kemudian menjadi Presiden. Sadat memimpin Mesir hampir 11 tahun. Kebijakan Sadat yang paling kontrkelewat / oversial, terutama bagi pengikut Islam, yaitu perjanjian hening dengan Israel. Pada 6 Oktober 1981, ketika menghadiri parade militer yang digelar di Kota Kairo, sekelompok militer memberondong Anwar Sadat. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit, tetapi nyawanya tidak tertolong lagi. Anwar Sadat tewas di tangan militernya sendiri.


Amilcar Cabral



Dia dikenal sebagai bapak kemerdekaan Guinea Bissau. Ia lahir di Bafata, Guinea, tanggal 12 September 1924. Ia sempat kuliah di Universitas Lisbon dan meraih gelar sarjana pertanian.Setelah kembali ke negerinya, ia sempat menjadi andal pertanian di manajemen kolonial. Namun, penderitaan rakyat telah mengubah jalan pikirannya. Ia pun mengorganisasikan perlawanan. Tahun 1956, Ia membentuk Gerakan Pembebasan Rakyat Angola (MPLA). Pada tahun yang sama, ia juga mendirikan Partai Afrika untuk Kemerdekaan Guinea-Bissau dan Kepulauan Cape Verder (PAIGC).

Cabral kemudian memimpin usaha bersenjata gerilyawan PAIGC melawan kolonialisme Portugis. Tahun 1972, Cabral mulai membentuk Majelis Rakyat sebagai persiapan untuk kemerdekaan penuh. Sayang, ketika ia sedang bersiap menuju Kongres Nasional untuk mengesahkan UU dan deklarasi kemerdekaan, seorang biro Portugis menembaknya hingga mati. Itu terjadi tanggal 20 Januari 1973.

Tokoh maupun pemimpin politik yang terbunuh jawaban dari kekerasan politik tersebut semoga menambah wawasan anda wacana tokoh dunia yang telah tiada alasannya yaitu politik. Semoga dengan politik yang ada sekarang, akan bisa membuat insan semakin maju, semakin mengedepankan kemakmuran rakyat.


Sampai disini Artikel tentang Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik

Semogga postingan Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik bisa bermanfaat bagi kalian semua, dilain waktu kita akan membahas selain topik tentang Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik yang lebih menarik lagi, dari saya ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah membaca sampai habis postingan ini.

0 Response to "Pemimpin Politik Yang Terbunuh Tanggapan Skandal Politik"

Posting Komentar