Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pentingnya Menuntut Ilmu Dan Kewajiban Mengamalkannya

KH Ahmad Thoha, MA


Menuntut Ilmu Sejarah pernah mencatat, bahwa imperium Utsmaniyah pernah mempunyai peranan yang memilih dalam percaturan dunia. Bahkan dakwah Islamiyah pernah hingga ke Wina. Sehingga masyarakat barat menjadi tidak tenang. Itu semua bisa terjadi alasannya yaitu umat Islam di waktu itu membekali diri dengan ilmu pengetahuan, di samping memperkokoh keimanan. Bahkan sejarah pernah pula mencatat, bahwa kemajuan peradaban Islam di Eropa, khususnya di Spanyol, tidak terlepas dari anutan Islam, yang menjunjung tinggi dan mengagungkan ilmu pengetahuan. Kemajuan barat, tidak bisa dipisahkan dari bantuan Islam. Sebagaimana diungkapkan oleh para ilmuwan mereka dengan tegas mengatakan, bahwa bangsa eropa sangat beruntung dan berhutang budi dengan kedatangan Islam. Banyak ilmu pengetahuan yang ditemukan dan kemudian diadopsinya. Kesan juga diungkapkan oleh ilmuwan barat lainnya, bahwa ilmu pengetahuan yang dibawa Islam, menjadi ide bagi perkembangan ilmu pengetahuan modern barat. Saat itulah izzul Islam wal muslimin (kemulyaan Islam dan kaum muslimin) dirasakan oleh dunia. Ini merupakan rahmat besar. Hidup dengan ilmu pengetahuan, disegani dan dihormati oleh bangsa lain. Ini sebagai bukti bahwa Islam yaitu agama yang merupakan hukum hidup yang tepat yang tiba dari Allah SWT. 

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘aalamiin. Telah mensyariatkan dan mewajibkannya kepada umatnya untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya melalui wahyuNya yang pertama kali turun yakni iqra’ (bacalah). Artinya ini perintah untuk mencar ilmu dan menuntut ilmu. (QS At Taubah : 122, Az Zumar : 9 ). 

Kata “ilmu” di dalam Al Qur’an dengan banyak sekali bentuknya terulang sebanyak 854 kali. Artinya agama Islam memberi perhatian besar kepada insan untuk membekali diri dengan ilmu, dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai hamba Allah untuk beribadah kepadaNya dan sebagai khalifatullah di muka bumi ini. Oleh alasannya yaitu itu, Rasulullah SAW mewajibkan kepada semua umatnya untuk menuntut ilmu. Sebagaimana sabdanya : thalabul ilmi fariidhotun ‘alaa kulli muslimiin wa muslimatun (mencari ilmu itu wajib bagi muslim pria maupun perempuan). Beliau juga mempunyai kebijakan untuk mendorong umatnya terus mencar ilmu dan belajar. Misalnya dikala kaum muslim berhasil menawan sejumlah pasukan kaum musyrikin dalam perang Badar. Dengan cara memperlihatkan mereka, jikalau mau bebas mereka harus membayar tebusan, atau mengajar baca tulis kepada warga Madinah. Kebijakan ini sungguh cukup strategis, alasannya yaitu mempercepat terjadinya transformasi ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslimin. 

Kita sebagai orang tua, harus menjadi rujukan di tengah keluarga kita masing-masing. Sebagai orang renta juga mendorong penuh biar keluarga kita untuk menuntut ilmu, jangan hingga kita telantarkan mereka. Jangan membiarkan mereka menjadi generasi yang lemah. (An Nisa’ : 9, Maryam : 59). 

Di darul abadi nanti jangan hingga anak isteri kita menggugat di pengadilan Ilahi, hanya alasannya yaitu kita tidak pernah menjadi rujukan yang baik, di rumah tangga. Hanya alasannya yaitu kita tidak pernah memberi dorongan kepada keluarga untuk hadir di majlis ilmu untuk menuntut ilmu. Allah SWT berfirman dalam surah At Tahrim : 6 yang maknanya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang materi bakarnya yaitu insan dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. 

Menuntut ilmu itu yaitu bab dari ibadah. Menuntut ilmu itu yaitu suatu kemulyaan. Allah SWT akan mengangkat derajat dan kedudukan orang yang menuntut ilmu. Dan Allah akan mudahkan jalan menuju nirwana orang yang menuntut ilmu. Allah berfirman dalam surah Al Mujadilah : 11 yang maknanya : Hai orang-orang beriman apabila kau dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah pasti Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, pasti Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kau kerjakan. 

Rasululah SAW bersabda : man salaka thoriqon yaltamisu fiihi ilman, sahalallahu lahu bihi thoriiqon ilal jannah (barang siapa berjalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga). 

Menuntut ilmu disamping ibadah, juga merupakan jihad. Yakni jihad melawan kebodohan. Jihad melawan keterbelakangan. Maka di sinilah dibutuhkan kesungguhan yang luar biasa. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW : man khoroja fii tholabil ilmi fahuwa fii sabiilillah (barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia pada jalan Allah). Ilmu yaitu cahaya yang menerangi dan menerangi hidup ini. Ilmu yaitu petunjuk, sedang kebodohan yaitu kegelapan dan kesesatan. (QS Al Maidah : 15-16), yang maknanya : Hai hebat Kitab, Sesungguhnya telah tiba kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al kitab yang kau sembunyi kan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah tiba kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. 

16. dengan kitab Itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. Ilmu yaitu alat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Bagaimana kita akan mengenal Allah kalau kita tidak pernah membekali diri dengan ilmu. Ilmu sekaligus juga sebagai petunjuk keimanan dan berinfak sholih. Dengan menuntut ilmu berarti kita telah meneladani sifat Allah yang Mulia yakni Al Aliim. Bukankah kita diperintakan untuk berakhlak dengan watak Allah. Allah telah memberi anugerah kepada penuntut ilmu dengan rahmah dan maghfirohNya. Sehingga energi yang dimiliki oleh orang aliim, diharapkan bisa meningkatkan kualitas insan dan menjawab banyak sekali problem manusia. Kesesuaian Antara Ilmu dan Amal 

Selayaknya seorang penuntut ilmu antusias untuk mengamalkan ilmu yang telah didapatkannya, sebagaimana antusias dia dalam mencari pelengkap ilmu baru. Karena tujuan pokok menuntut ilmu yaitu untuk diamalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi membuktikan atas nikmat Allah berupa ilmu, yang dengannya Allah akan menambahkan ilmu sebagai ziyadah (tambahan) nikmat atasnya, “Sesungguhnya jikalau kau bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu,” (QS. Ibrahim: 7) 

Maka barangsiapa yang mensyukuri nikmat ilmu dengan amal, pasti Allah akan menambah nikmat berupa ilmu. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abdul Wahid bin Zaid, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmunya, maka Allah akan membuka baginya ilmu yang belum diketahui sebelumnya.” 

Orang yang hanya sibuk mencari ilmu namun tidak berusaha mengamalkannya, menyerupai orang yang mencari uang, namun ia tidak bisa membelanjakannya, kemudian apa gunanya dia mencari uang? 

Abdullah bin Mubarak berkata, “Orang yang berilmu adalah, seseorang yang tidak melulu berpikir untuk menambah ilmu, sebelum dia berusaha mengamalkan apa yang telah dia miliki, Maka dia menuntut ilmu untuk diamalkan, alasannya yaitu ilmu dicari untuk diamalkan. 

Tentu saja pemfokusan ia yaitu motivasi untuk mengamalkan ilmu yang telah dimiliki, bukan mengerem atau menjatuhkan semangat untuk menambah ilmu. Bagaimanapun, kita tetap harus senantiasa menuntut ilmu dan terus berusaha mengamalkan ilmu. Tidak dibenarkan juga seseorang yang tidak sudi menuntut ilmu dengan alasan takut akan tuntutannya. Karena berarti dari awal dia sudah tidak mempunyai niat untuk mengamalkan ilmu. Akhirnya ia menjadi orang yang bodoh dari ilmu dan kosong dari amal. Tepat sekali tanggapan sobat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dikala seseorang kepada beliau, “Sebenarnya saya ingin mencari ilmu, tapi saya takut menyia-nyiakannya (yakni takut tuntutan mengamalkannya).” Maka ia berkata, “Cukuplah kau dikatakan menyia- nyiakan ilmu jikalau kau tidak mau belajar. 

Para ulama memandang, seseorang tidak dikatakan alim (orang yang berilmu) kecuali sesudah mengamalkan ilmu yang dimilikinya “Innamal ‘aalim, man ‘amila bimaa ‘alim.”(sungguh orang yang yang alim itu yaitu orang yang mengamalkan ilmunya) Imam asy-Sya’bi juga beropini bahwa orang yang faqih yaitu orang yang benar-benar menjauhi segala yang diharamkan Allah SWT dan alim yaitu orang yang takut kepada Allah SWT. Jika kita menengok para ulama salaf dan para Imam yang bertabur ilmu, akan kita dapatkan bahwa mereka bukan sekedar hebat ilmu, tapi juga hebat ibadah. Bukan sekedar ibadah yang wajib dan yang tampak, tapi juga ibadah yang sunnah dan yang tersembunyi. 

Seperti Imam Abu Hanifah rahimahullah. Beliau biasa menghidupkan separuh malamnya. Hingga pada suatu hari ia melewati suatu kaum, dan ia mendengar mereka berbisik, “Orang ini (yakni Abu Hanifah), menghidupkan malam semuanya untuk ibadah.” Maka Abu Hanifah berkata, “Sungguh! Aku aib kepada Allah, jikalau saya disebut-sebut dengan sesuatu yang tidak saya lakukan.” Lalu sesudah itu ia selalu menghidupkan malamnya semua. 

Imam asy-Syafi’I berkata : “Sudah sepantasnya seorang penuntut ilmu itu mempunyai suatu belakang layar antara dia dengan Allah, yakni berupa amal shalih, tidak hanya mengandalkan banyaknya ilmu namun sedikit harapannya untuk akhirat.” 


Posting Komentar untuk "Pentingnya Menuntut Ilmu Dan Kewajiban Mengamalkannya"