Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji

Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji - Sebuah amalan dan baik digunakan dalam kehidupan sehari-hari DIGDOYO, blog ini memang khusus membuat berbagai macam artikel tentang ilmu Ajian, olah kanuragan yang bisa kalian pelajari langsung Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji, kami telah mempersiapkan informasi yang kalian butuhkan untuk menguasainya. Silahkan ambil informasi yang kalian butuhkan tentang: Artikel lainnya, yang kami buat dan pelajari dengan penuh keikhlasan.

Judul:Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji
link:Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji
Artikel Menarik:

Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji

Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji


Sudah kita ketahui bersama bahwa haji yaitu ibadah yg amat mulia. Ibadah tersebut yaitu penggalan dari rukun Islam bagi orang yg bisa menunaikannya. Keistimewaan haji banyak disebutkan dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Berikut beberapa di antaranya:

 Sudah kita ketahui bersama bahwa haji yaitu ibadah yg amat mulia Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji
Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji

Pertama: Haji merupakan Wirid atau Bacaan yg paling afdhol.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

سُئِلَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – أَىُّ الأَعْمَالِ أَفْضَلُ قَالَ « إِيمَانٌ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « جِهَادٌ فِى سَبِيلِ اللَّهِ » . قِيلَ ثُمَّ مَاذَا قَالَ « حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya, “Wirid atau Bacaan apa yg paling afdhol?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ada yg bertanya lagi, “Kemudian apa lagi?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Jihad di jalan Allah.” Ada yg bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?” “Haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1519)

Kedua: Jika ibadah haji tidak bercampur dengan dosa (syirik dan maksiat), maka kesannya yaitu surga

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Dan haji mabrur tidak ada akhir yg pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349). An Nawawi rahimahullah menjelaskan, “Maksud, ‘tidak ada akhir yg pantas baginya selain surga’, bersama-sama haji mabrur tidak cukup jikalau pelakunya dihapuskan sebagian kesalahannya. Bahkan ia memang pantas untuk masuk surga.” (Syarh Shahih Muslim, 9/119)

Ketiga: Haji termasuk jihad fii sabilillah (jihad di jalan Allah)

Dari ‘Aisyah—ummul Mukminin—radhiyallahu ‘anha, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ ، نَرَى الْجِهَادَ أَفْضَلَ الْعَمَلِ ، أَفَلاَ نُجَاهِدُ قَالَ « لاَ ، لَكِنَّ أَفْضَلَ الْجِهَادِ حَجٌّ مَبْرُورٌ »

“Wahai Rasulullah, saya memandang bahwa jihad yaitu Wirid atau Bacaan yg paling afdhol. Apakah berMakna saya Musti berjihad?” “Tidak. Jihad yg paling utama yaitu haji mabrur”, jawab Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Bukhari no. 1520)

Keempat: Haji bakal menghapuskan kesalahaan dan dosa-dosa

Dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa ia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Siapa yg berhaji ke Ka’bah kemudian tidak berkata-kata seronok dan tidak berbuat kefasikan maka dia pulang ke negerinya segimana Saat dilahirkan oleh ibunya.” (HR. Bukhari no. 1521).

Kelima: Haji bakal menghilangkan kefakiran dan dosa. 

Dari Abdullah bin Mas’ud, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِى الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

“Ikutkanlah umrah kepada haji, alasannya yaitu keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa segimana pembakaran menghilangkan karat pada besi, emas, dan perak. Sementara tidak ada pahala bagi haji yg mabrur kecuali surga.” (HR. An Nasai no. 2631, Tirmidzi no. 810, Ahmad 1/387. Kata Syaikh Al Albani hadits ini hasan shahih)

Keenam: Orang yg berhaji yaitu tamu Allah

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia bersabda,

الْغَازِى فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

“Orang yg berperang di jalan Allah, orang yg berhaji serta berumroh yaitu tamu-tamu Allah. Allah memanggil mereka, mereka pun memenuhi panggilan. Oleh alasannya yaitu itu, jikalau mereka meminta kepada Allah niscaya bakal Allah beri” (HR. Ibnu Majah no 2893. Syaikh Al Albani menyampaikan bahwa hadits ini hasan).

Begitu luar biasa pahala dari berhaji. Semoga kita pun termasuk orang-orang yg dimudahkan oleh Allah untuk menjadi tamu-Nya di rumah-Nya. Semoga kita sanggup mempersiapkan ibadah tersebut dengan kematangan, fisik yg kuat, dan rizki yg halal.

Semoga Allah mengaruniakan kita haji yg mabrur yg tidak ada akhir selain surga.

Mitos Seputar Ibadah Haji

Beberapa dongeng pengalaman menarik seputar ibadah haji mungkin telah mampir ketelinga kita, terutama soal “balasan-balasan” yg diterima oleh jama’ah haji selama melaksanakan ibadah haji. Pengalaman yg disampaikan dari verbal kemulut yg kemudian menjadikan persepsi bahwa bagi mereka yg kelak bakal menunaikan ibadah haji bakal mendapatkan akhir yg sama atas semua perbuatannya selama hidup ditanah air, terutama soal keburukan yg pernah dilakukan.

Hal tersebut tentu bukan sebuah kebenaran yg Musti kita percaya, alasannya yaitu itu hanyalah sebuah dongeng yg dibesar-besarkan dan disebarluaskan menjadi sebuah mitos. Tidak sedikit yg kemudian yg percaya dengan hal-hal demikian dan mereka pun mengalami hal yg sama mirip dongeng yg mereka dengar.

Mengapa hal tersebut terjadi?

Penyebabnya yaitu alasannya yaitu para jama’ah haji belum membersihkan diri setrik maksimal sebelum berangkat ketanah suci.. Banyak jama’ah yg kemudian tidak benar-benar dalam keadaan yg siap beribadah ketanah suci oleh alasannya yaitu masih tersangkut oleh urusan-urusan ditanah air. Bagaimana mungkin bakal tercipta keadaan lahir dan bathin yg siap beribadah haji sepenuhnya di tanah suci, bila kemudian apa yg jama’ah persiapkan belum atau tidak maksimal.

Berangkat menunaikan ibadah haji diibaratkan melaksanakan perjalanan menuju kematian. Karena kita tidak tahu apakah perjalanan tersebut bakal menghantarkannya kembali ketanah air atau tidak.

Oleh alasannya yaitu itu persiapan maksimal Musti dilakukan supaya hasil maksimal bisa didapatkan, yaitu menjadi haji yg mabrur.

Persiapan tersebut berupa kesiapan mental bagi jama’ah haji dan keluarga yg ditinggalkan, kesiapan ilmu wacana haji supaya ibadah yg kelak dilakukan ditanah air bisa maksimal, kesiapan finansial bagi jama’ah dan keluarga yg ditinggalkan, jangan hingga mereka yg ditinggalkan dalam keadaan kelaparan atau kekurangan pangan. Karena ibadah haji bukan hanya semata ibadah eksklusif jama’ah tetapi ibadah sosial

Bila kemudian para jama’ah haji ada yg tidak siap setrik lahir dan bathin untuk melaksanakan ibadah haji, maka cerita-cerita yg “dimitoskan” yg pernah mereka dengar bakal terjadi. Karena ibadah haji bakal dihadapkan kepada ujian-ujian yg melapangkan maupun yg menyempitkan urusan para jama’ah haji kelak. Bila lahir dan bathin kita tidak terkondisikan dengan baik, maka bisa tergelincir kepada perbuatan-perbuatan yg sebenarnya dihentikan untuk dilakukan selama melaksanakan ibadah haji ditanah suci. Kemudian seolah membenarkan mitos bahwa benar apa yg telah jama’ah haji alami alasannya yaitu perbuatannya selama hidup ditanah, air.

Penyakit hati mirip sombong, iri, dengki, hasut dan penyakit hati lainnya yg masih menempel selama menunaikan ibadah haji yg kemudian mengadirkan cerita-cerita mitos tersebut.

Penulis mencoba menceritakan kembali hal-hal yg dianggap mitos, padahal hanyalah akhir alasannya yaitu penyakit hati yg masih menempel didalam diri para jama’ah.

“Dalam sebuah kesempatan ibadah haji, seorang Kyai bersama dua jama’ah haji yg hendak melaksanakan ibadah sholat sunnah, alasannya yaitu sang Kyai mendapati dirinya tidak dalam keadaan bersuci, maka ia berpamitan dengan kedua jama’ah yg sebenarnya menjadi tanggung-jawabnya.

“saya pamit dulu ya, hendak berwudhu!”,

“kalian duduk disini saja, jangan kemana-mana!”

setelah menghapal kawasan kedua jama’ah tersebut, maka sang Kyai bergegas menuju ketempat wudhu. Dalam hati sang Kyai rupanya terselip rasa sombong alasannya yaitu merasa hari tersebut yaitu hari keempat keberadaanya ditanah suci.

“Ah, ane kan sudah empat hari ditanah suci, lagian ane bisa bahasa arab jadi gak mungkin kesasar!”.

Usai berwudhu dimulailah episode pensucian atas kesombongan yg terselip dihati sang Kyai yg merasa sudah hapal kawasan dan andal bahasa arab tersebut. Sang Kyai bergegas kembali menuju kawasan ia meninggalkan kedua jama’ah tadi. Sudah berulang-kali sang Kyai mondar-mandir mencari kawasan Maksud, tetapi tidak ditemukan juga.

Dalam hati sang Kyai masih sempat mendumel “nih orang disuruh jangan kemana-mana, eh malah menghilang sekarang!”. Tempat yg ia hapalkan tadi tidak diketemukan, semuanya sama, alasannya yaitu memang tiang-tiang penyangga masjid tidak ada yg beda.

Hingga kemudian sang Kyai tersadar bahwa ia telah melaksanakan hal seharusnya tidak boleh dilakukan selama ditanah suci, Keliru satunya yaitu perbuatan sombong yg sempat terbersit didalam hati sang Kyai. Menyadari hal tersebut, sang Kyai sholat sunnah dua rakaat dan berdo’a memohon ampunan atas kesombongan yg telah dilakukan, dan meminta ia dipertemukan kembali dengan kedua jama’ah yg ditinggalkan. Alhamdulillah setelah melaksanakan sholat sunnah dan do’a, beberapa meter dari tempatnya ia melihat kedua jama’ah tersebut. Sebenarnya kedua jama’ah tersebut melihat mondar-mandirnya sang Kyai melintas disamping kawasan mereka duduk, tapi alasannya yaitu melihat tampaknya sang Kyai sedang dalam urusan yg “penting” maka mereka tidak menegurnya.

Cerita mirip itu dalam aneka macam versi dan bobot duduk perkara yg lebih serius juga dialami jama’ah-jamah yg lain. Balasan yg setimpal atas amal perbuatan yg dilakukan oleh para jama’ah haji kontan diterima Saat itu juga. Oleh alasannya yaitu itu untuk menjaga supaya hal-hal jelek tidak menimpa kita Saat menunaikan ibadah haji, maka hindarilah perbuatan lahir dan bathin yg tercela.

Fokuskan sepenuhnya aktifitas kita hanya untuk beribadah haji dengan khusyuk, lupakan belanja dan memenuhi pusat-pusat perbelanjaan apalagi sampi menyibukkan diri untuk menyiapkan buah tangan buat keluarga ditanah air. Bawalah buah tangan ketanah air dengan menjadi haji yg mabrur. supaya kelak gelar haji yg disandang bisa bermanfaat setrik sosial dengan menularkan kesholehan dan kebaikan bagi masyarakat sekitar kawasan tinggalnya.

Daftar Haji/ Caranya Praktis Daftar Haji ONH Plus


Nah mulai sekarang, anda tidak perlu khawatir lagi alasannya yaitu Cheria Travel memperlihatkan trik Mudah daftar umroh 2017 untuk anda semua yg ingin menunaikan ibadah umroh ke tanah suci.

Cheria Travel memang memperlihatkan fasilitas dalam daftar umroh 2017 bukan?

Untuk mendapatkan info lebih rinci mengenai Caranya Praktis Daftar Umroh 2017 / Haji Plus ONH, silahkan hubungi saya.

Salam +Cheria Halal Wisata Tour Travel, Jika berminat hubungi segera cs saya.



Sampai disini Artikel tentang Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji

Semogga postingan Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji bisa bermanfaat bagi kalian semua, dilain waktu kita akan membahas selain topik tentang Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji yang lebih menarik lagi, dari saya ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah membaca sampai habis postingan ini.

0 Response to "Merenungkan Kembali Makna Ibadah Haji"

Posting Komentar