Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi

Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi - Sebuah amalan dan baik digunakan dalam kehidupan sehari-hari DIGDOYO, blog ini memang khusus membuat berbagai macam artikel tentang ilmu Ajian, olah kanuragan yang bisa kalian pelajari langsung Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi, kami telah mempersiapkan informasi yang kalian butuhkan untuk menguasainya. Silahkan ambil informasi yang kalian butuhkan tentang: Artikel lainnya, yang kami buat dan pelajari dengan penuh keikhlasan.

Judul:Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi
link:Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi
Artikel Menarik:

Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi

Setiap makhluk hidup yang diciptakan dan ditempatkan di bumi telah memiliki tugas masing-masing. Semuanya saling bergantung mengandalkan satu sama lain. Tak hanya binatang yang butuh tumbuhan dan tumbuhan yang membutuhkan binatang saja melainkan insan pun keberlangsungan hidupnya bergantung dengan binatang dan tumbuhan.

Apalagi sebagai satu-satunya makhluk hidup yang diberi nalar dan pikiran, insan sudah sepatutnya turut menjaga dan merawat makhluk hidup yang lain. Namun apa jadinya bila perilaku insan berbalik yakni menyiksa makhluk hidup terutama hewan? Beginilah kesadisan beberapa orang yang menyiksa hewan-hewan dengan alasan demi sebuah tradisi berikut ini.


Palio di Siena



Palio di Siena yaitu Keliru satu perayaan tradisi dari Italia yang diadakan sebagai bentuk penghormatan Bunda Maria Diangkat Menuju Surga. Namun bentuk perayaan atau penghormatan ini justru terkesan sedikit nyleneh dan menyiksa binatang terutama kuda, satu-satunya binatang yang dijadikan media utama dalam Palio di Siena ini. Kuda-kuda tersebut bakal dipacu oleh joki yang sedang mabuk akhir minum minuman beralkohol sangat banyak. Para joki tersebut pun memacu tanpa adanya pelana sehingga sudah sanggup dibayangkan Jika kuda-kuda tersebut dipacu dengan aneka macam trik kekerasan dan kebrutalan joki yang sedang mabuk. Karena hal itulah para joki tersebut tidak terkesan sedang menunggangi kuda namun menyiksa dan menganiaya binatang malang tersebut. Sebagai akibatnya, beberapa kuda banyak yang akhirnya tewas dengan aneka macam macam luka dan darah alasannya yaitu disakiti joki itu sendiri. Beruntung perayaan yang diadakan tiap tanggal 2 Juli dan 16 Agustus ini sudah berhenti diadakan oleh pemerintah Italia alasannya yaitu dianggap menyiksa hewan!


Tradisi Panah Ayam



Di belahan bumi penggalan Asia tepatnya di negara Cina ternyata juga memiliki tradisi asing yang justru terlihat menyiksa binatang khususnya ayam. Tradisi tersebut masuk dalam rangkaian Festival Musim Salju yang diadakan setrik turun temurun oleh masyarakat Yanbian, Provinsi Jilin. Dalam pekan raya tersebut terdapat perlombaan panah dan betapa sadisnya yang dijadikan objek target yaitu ayam yang masih hidup! Pemanah diwajibkan melepaskan busurnya ke arah ayam yang sudah digantung setrik terbalik di tembok es tebal. Skor terbesar diperuntukkan bagi yang berhasil memanah sempurna di kepala ayam dan ialah yang keluar jadi pemenang. Meski banyak yang memprotes ihwal tradisi memanah ayam ini, namun masyarakat Yanbian tetap memegang prinsip bahwa rangkaian program ini yaitu bentuk penghormatan mereka terhadap menjaga kelestarian tradisi dan kebudayaan nenek moyang mereka yang cakap dalam urusan memanah.


Ritual Kuil Gadhamai



Hampir seluruh negara di dunia niscaya memiliki tradisi yang seringkali terlihat asing atau nyleneh di mata orang lain. Termasuk tradisi yang satu ini selain asing dan nyleneh juga dianggap sebagai penyiksaan massal hewan-hewan. Ritual Kuil Gadhamai namanya, tradisi ini berasal dari masyarakat Hindu Nepal. Mereka percaya bahwa mempersembahkan atau lebih tepatnya menyajikan aneka macam macam jenis binatang dalam jumlah banyak sebagai tumbal yaitu bentuk ritual ibadah untuk membawa keberuntungan dan kemakmuran dari Dewa Dewi Gadhamai yang merasa puas. Hal yang menjadi sorotan dan disimpulkan sebagai tindakan sadis yaitu bahwa orang-orang tersebut bakal membantai habis-habisan burung, kerbau, tikus, ayam, babi, kambing dan lain sebagainya di area tanah yang sangat luas. Banyak pencetus dan masyarakat Hindu dari India yang mengecam ritual ini, mereka keberatan bila penyiksaan binatang dikait-kaitkan dengan persoalan kepercayaan. Mereka juga menganggap tidak ada agama yang memaklumi pembantaian massal hewan-hewan malang tersebut.


Festival Ukweshwama



Suku Zulu yaitu Keliru satu suku yang hingga ketika ini masih mendiami wilayah Afrika Selatan. Suku ini dikenal masih sangat kental dengan tradisi menyerupai trik bersalaman hingga ritual lainnya. Keliru satunya yang unik namun mengundang kontrkelewat / oversi yaitu Festival Ukweshwama. Dalam pekan raya ini terdapat tradisi yang didalamnya mengandung unsur penyiksaan hewan. Ketika perayaan tersebut dilaksanakan masyarakat Suku Zulu membentuk sebuah lingkar yang di tengah-tengahnya terdapat banteng hidup. Kemudian banteng tersebut bakal dianiaya setrik sadis dan kejam atas nama penggalan dari tradisi. Penganiayaan yang dilakukan masyarakat Suku Zulu tersebut tak “hanya” dipukul saja namun dicongkel matanya, pengecap dipotong, kelamin dikebiri dan lain sebagainya. Begitu sadisnya tradisi dalam Festival Ukweshwama ini hingga mendapat perhatian dunia yang mengkritik setrik tegas penyelenggaran tradisi ini. Sayangnya, pemerintah Afrika Selatan tetap tak mau menghentikan pekan raya ini alasannya yaitu sudah menjadi penggalan dari tradisi Suku Zulu.


Goose Pulling



Tradisi selanjutnya ini mungkin sanggup disebut sebagai tradisi paling sadis dalam penyiksaan binatang di era modern ketika ini. Tradisi berjulukan Goose Pulling ini diadakan setrik tahunan di negara-negara Eropa menyerupai Belgia, Jerman, Inggris, Belanda dan bahkan juga di wilayah Amerika Utara. Tradisi yang telah berlangsung semenjak era ke-17 ini begitu sadis dan kejam alasannya yaitu melibatkan bebek sebagai medianya. Jika sahabatanehdidunia.com mengenal wahana ekstrim flying fox yang membuat orang bergelantungan di atas ketinggian tertentu dengan dilengkapi keamanan maka dalam tradisi Goose Pulling ini orang-orang Menggunakan leher bebek hidup sebagai tali untuk bergelantungan. Angsa tersebut digantungkan setrik terbalik di tali, dan kepalanya dipakai seagai pegangan bagi orang-orang. Tak cukup disitu saja, kepala bebek yang dijadikan sebagai tumpuan pegangan tersebut harus hingga putus dan permainan gres dikatakan selesai. Tradisi kejam ini menuai kecaman masyarakat terutama para pecinta binatang hingga pada tahun 2008 pemerintah tetapkan untuk mengganti bebek hidup tersebut dengan bebek yang sudah mati!

Itulah beberapa hewan-hewan yang disiksa atas nama tradisi. Sebagai sesama makhluk hidup sebaiknya kita tetap menjalankan tradisi tanpa memakan atau menyakiti makhluk lain. Semoga sahabatanehdidunia.com sanggup lebih bijak menyikapi perayaan tradisi yang melibatkan aneka macam macam jenis hewan.

Sumber referensi:
http://www.tentik.com/beginilah-10-trik-eropa-menyiksa-binatang-demi-tradisi/
http://www.merdeka.com/dunia/lima-aksi-sadis-penyiksaan-hewan-bikin-heboh-dunia.html


Sampai disini Artikel tentang Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi

Semogga postingan Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi bisa bermanfaat bagi kalian semua, dilain waktu kita akan membahas selain topik tentang Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi yang lebih menarik lagi, dari saya ucapkan banyak terima kasih karena kalian telah membaca sampai habis postingan ini.

0 Response to "Penyiksaan Hewan-Hewan Atas Nama Tradisi"

Posting Komentar